Berhati-hatilah memilih hati karena banyak hati yang suka menyakiti hati.....
Sergap Beangonong ire

Minggu, 08 Mei 2011

IMAN KEPADA RASUL ALLAH

makalah ilmu tauhid

KATA PENGANTAR


Segala Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam, atas segala karunia, rahmat, hidayah dan taufik- Nya, penyusun memiliki kekuatan dan kesabaran untuk menyeslesaikan makalah ini, meskipun penyusun mengakui makalah ini masih jauh dari sempurna.

Shalawat serta salam semoga tetap dilimpahkan kepada Rasuullah SAW., keluarganya, para sahabatnya dan semua penganut ajarannya.

Makalah ini ditujukan kepada dosen pengajar Mata Kuliah Ilmu Tauhid sebagai salah satu tugas dan sebagai acuan dalam presentasi. Makalah ini membahas tentang keimanan terhadap Rasul-Rasul Allah, ciri-ciri dan sifat-sifat Rasul, nama-nama Nabi dan Rasul, dan hikmah keimanan terhadap Rasul.

Penyusun mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang membantu penyusun dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga Allah SWT membalas dengan pahala yang berlipat ganda di dunia dan akhirat.

Oleh karena tiada gading yang tak retak, kami menyadari kemungkinan banyaknya kekurangan dalam makalah ini baik dari segi isi maupun penulisannya. Oleh sebab itu, sumbang pikiran pembaca berupa kritik dan saran khususnya dari dosen sangat kami harapkan, demi penyempurnaan karya-karya tulis kami yang akan datang.

Akhirnya harapan penyusun, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua, dan semoga Allah SWT memberi taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin

Bandung, April 2011

Penyusun


BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Dalam setiap kehidupannya, fitrah seorang insan akan senantiasa mengakui keberadaan suatu Dzat yang Maha segala-galanya. Namun dalam perjalanannya, untuk memahami secara benar mengenai Dzat yang Maha segala-galanya ini manusia tidak mungkin dapat mengetahuinya hanya dengan mengandalkan fitrah dan akalnya saja. Manusia ‘memerlukan’ seorang penuntun yang mengantarkan dirinya pada Allah, beserta cara untuk menyembah-Nya dengan baik dan benar.

Di sinilah, Allah SWT mengutus para rasul, guna membimbing mereka ke jalan yang benar. Rasul yang juga meluruskan berbagai fenomena ‘kekeliruan’ dalam menyembah Allah. Di tambah lagi dengan adanya kelicikan syaitan yang senantiasa menjerumuskan insan dalam berbagai bentuk kemusyrikan. Tanpa seorang rasul, maka dapat dipastikan seluruh manusia akan tersesat dalam lembah kehinaan yang sangat mencekam.

Oleh karena itulah, sangat penting bagi kita semua untuk kembali memahami hakekat para rasul, ciri-cirinya, sifat-sifatnya, tujuan diturunkannya Rasul, nama-nama nabi dan rasul, hikmah beriman kepada rasul. Karena semua rasul adalah manusia. Semua rasul, mengajak pada satu ajaran yaitu mengesakan Allah dengan merealisasikan ibadah hanya kepada-Nya.

II. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam makalah ini kami batasi pada:

1. Apa yang dimaksud dengan iman kepada Rasul?

2. Bagaimana ciri-ciri dan sifat Rasul-Rasul Allah?

3. Apa tujuan diturunkannya Rasul?

4. Sebutkan nama-nama Nabi dan Rasul?

5. Bagaimana hikmah keimanan terhadap Rasul-Rasul Allah?

III. Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui apa itu iman kepada Rasul.

2. Untuk mengetahui ciri- ciri dan sifat Rasul-Rasul Allah .

3. Untuk mengetahui tujuan diturunkannya Rasul

4. Untuk mengetahui nama-nama Nabi dan Rasul

5. Untuk mengetahui hikmah keimanan terhadap Rasul.

BAB II

PEMBAHASAN

I. KEIMANAN TERHADAP RASUL

1.1 Pengertian Nabi dan Rasul

Nabi dalam bahasa arab نبي , adalah orang yang menceritakan suatu berita lewat wahyu. Sedangkan Rasul secara bahasa berasal dari kata ارسل – يرسل - اِرْسَالا yang bermakna mengutus, membimbing atau memberi arahan. Definisi secara syar’i yang masyhur, Nabi adalah seseorang yang menerima wahyu syari’at dari Allah untuk di lakukannya sendiri, sedangkan Rasul adalah yang menerima wahyu syari’at dari Allah untuk di lakukannya sendiri dan juga agar disampaikan kepada ummatnya.

Jadi perbedaan antara Nabi dan Rasul :

  • Nabi adalah manusia laki-laki yang dipilih oleh Allah SWT untuk menerima wahyu untuk dilakukannya, tetapi tidak wajib untuk menyampaikan kepada umatnya.
  • Rasul adalah manusia laki-laki yang dipilih oleh Allah SWT untuk menerima wahyu untuk dilakukannya dan untuk disampaikan dan diajarkan kepada umatnya.

1.2 Iman kepada Rasul

Allah telah memilih orang-orang terbaik-Nya untuk menjadi Nabi atau Rasul. Termasuk didalamnya keyakinan bahwa para Nabi dan Rasul itu menyampaikan petunjuk, perintah, larangan dan peringatan-peringatan Allah kepada umat manusia, serta memberikan contoh perilaku terpuji seperti yang telah mereka amalkan, oleh karena itu kita sebagai umat muslim harus mengimani para Nabi dan Rasul-Nya. Dan sebagaimana kewajiban seorang mukmin kepada Rasulullah SAW yaitu :

· Mengimaninya
Banyak ayat yang menyebutkan iman kepada Allah dan Rasulnya, secara bersamaan. Ini artinya bahwa iman Kepada Rasul tidak bisa dipisahkan dengan iman kepada Allah. Keislaman seseorang dianggap batal bila hanya iman kepada Allah tapi tidak iman kepada Rasul, disebut inkarusunnah.

“Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”” (Q.S. Al-Baqarah : 136)

Mengimani bahwa Allah benar-benar mengutus para Nabi dan Rasul. Orang yang mengingkari walaupun satu Rasul sama saja mengingkari seluruh Rasul. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (QS. Asy-Syu’araa 26:105). Walaupun kaum Nuh hanya mendustakan nabi Nuh, akan tetapi Allah menjadikan mereka kaum yang mendustai seluruh Rasul.

· Mencintainya
Iman seseorang dinggap sempurna bila ia telah mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih besar cintanya kepada yang lain bahkan kepada dirinya sendiri.

· Mengagungkanya
Jasa dan pengorbanannya untuk umat ini berikut sifat-sifat kesempurnaan yang Allah berikan kepadanya membuatnya layak untuk diagungkan. Namun pengagungan ini tidak boleh melampaui batas karena Islam melarang kultus.

· Membelanya
Membelanya adalah kewajiban mukmin. Caranya, dengan ittiba’ kehidupannya, maka Allah pasti akan member pengahargaan atasnya.

· Mencintai mereka yang mencintainya

Mereka cinta Allah danRasul-Nya, mereka bertemu dan berpisah karena dorongan cinta tersebut. Mereka bagian tubuh yang satu, bila ada yang sakit, semua merasakan demam dan tidak bias tidur.

Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengingat Rasulullah SAW :

Ø Menghidupkan sunnahnya

Yang dimaksud bukan hanya sunnah dalam ibadah khusus, namun termasuk aktivitas sehari-hari yang kecil dan sederhana. Bila aktivitas tersebut dimaksudkan untuk ittiba’ rasul, maka pasti bernilai ibadah.

Ø Memperbanyak shalawat untuknya

Satu shalawat nabi jika diucapkan seorang muslim akan dibalas dengan sepuluh kali doa Rasul untuknya.

Ø Mengikuti manhajnya

Manhaj yang dimaksud tidak lain adalah sistem Islam yang mengatur segala aspek kehidupan manusia. Mewarisi risalahnya dengan menjaga, membela, dan memperjuangkan dalam gerak bawah dan jihad.

Banyak sekali dalil-dalil tentang beriman kepada Rasul, dan diantaranya yaitu :

وَنَذِيرًاوَمُبَشِّرًاهِدًاشَاكَأَرْسَلْنَاإِنَّالنَّبِيُّأَيُّهَا

Hai Nabi, sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.”(Q.S. Al-Ahzab : 45)

كَثِيراًاللَّهَوَذَكَرَالْآخِرَوَالْيَوْمَاللَّهَيَرْجُوكَانَلِّمَنحَسَنَةٌأُسْوَةٌاللَّهِرَسُولِفِيلَكُمْكَانَلَقَدْ

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab : 21)

Cara menumbuhkan iman kepada Rasul :

· Mengenali sikap dan keteladanan serta kepribadian Rasul SAW yang mulia

· Membaca dan menghayati kisah-kisah para Rasul SAW

· Kehalusan tutur kata Rasul, bagusnya sikap dantingkah laku Rasul dapat dijadikan teladan dalam kehidupan

· Menerapkan sunah-sunah Rasul dalam kehidupan sehari-hari

· Tidak berputus asa dalam menjalankan apa yang telah dicontohkan oleh Rasul

II. CIRI DAN SIFAT RASUL

2.1 Ciri-ciri Rasul

Sebagai seorang muslim, kita perlu tahu secara jelas mengenai rasul beserta ciri-cirinya. Diantara ciri-ciri seorang rasul adalah sebagai berikut:

1. Rasul adalah manusia

Rasul adalah seorang manusia dari golongan umat itu sendiri, sekalipun Ia pasti terambil dari keturunan yang mulia yang telah dikhususkan serta dipilih oleh Allah SWT dengan berbagai pemberian serta karunia, baik kebaikan akal fikirannya ataupun kesucian rohaniahnya. Perlunnya ialah supaya rasul itu dapat menyiapkan dirinya untuk menerima wahyu dari Allah SWT.

Allah memilih utusan-utusan (Nya) dari malaikat dan manusia . sesungguhnya Allah adaalah Maha Mendengar lagi Maha melihat.(Q.S.Al- Hajj:75)

2. Rasul juga menikah

Rasul juga menikah dan juga mempunyai anak. Jadi tidak berbeda sebagaimana manusia biasa.

“sesungguhnya kami telah mengutus beberapa orang Rasul sebelummu dan kami memberikan isteri-isteri dan keturunan kepada mereka.(Q.S.Ar-Rad:38)

3. Rasul pasti seorang laki-laki

Tidak ada seorang rasul yang diangkat atau diutus oleh Allah SWT, melainkan ia pasti seorang laki-laki. Jadi tidak ada rasul dari golongan malaikat, sebab malaikat tidak lelaki dan tidak perempuan, juga tidak ada rasul yang dari golongan perempuan.

Kami tidak pernah mengutus rasul sebelummu yang sebelummu (Muhammad) melainkan orang-orang lelaki yang kami berikan wahyu kepada mereka itu. (Q.S. Al-Anbiya:7)

4. Memiliki sifat – sifat asasiyah

Sifat asasiyah ini terdiri dari sidiq, amanah, tabligh dan fathanah. Sifat ini harus dimiliki oleh setiap rasul yang mengemban atau membawa risalah dari Allah SWT.

5. Memiliki mu’jizat

Salah satu contohnya adalah mu’jizat Rasulullah SAW ketika membelah bulan.

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ * وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ*

“Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mu`jizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus."(Q.S. Al - Qamar : 1 - 2)

6. Berita kedatangannya

Dalam al-Qur’an Allah berfirman :

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي

مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)" Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata".(Q.S.Ash - Shaf : 6)

7. Berita kenabian

Setiap rasul senantiasa membawa perintah Allah untuk mengajak umatnya ke jalan yang baik. Perihal kerasulan merekapun Allah beritahukan.

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ

وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk".(QS. Al-A’raf : 158)

8. Adanya hasil dari da’wah yang dilakukannya

Hal ini dapat kita lihat, pada hasil da’wah Rasulullah SAW yang dari segi kualitas, mereka memiliki keimanan yang sangat kokoh, tidak tergoyahkan oleh apapun juga. Kemudian dari segi kuantitas, jumlah mereka demikian banyaknya, tersebar kesluruh pelosok jazirah Arab, bahkan melewati jazirah Arab. Allah SWT berfirman

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا

سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ

فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيم

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu'min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al - Fath : 29)

2.2 Sifat-sifat Rasul

Setiap rasul Allah wajib memiliki empat sifat berikut ini, sehingga pantas untuk mengemban risalah.

1. Jujur

Yakni kejujuran yang tidak rusak dalam segala kondisi. Sekiranya setiap perkataannya diuji, pastilah sesuai dengan kenyataan. Baik ketika ia berjanji, serius, bercanda, memberi kabar, maupun ketika bernubuat. Apabila sifat ini rusak sedikit saja, maka risalah yang ia bawa pun secara otomatisrusak pula karena manusia tidak percaya dengan rasul yang tidak jujur. Seorangrasul yang jujur, tidak sedikit pun dari perkataannya yang mengandung kebatilan, dalam kondisi dan situasi apa pun.

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى* إِنْ هُوَ إِلاَ وَحْيٌ يُوحَى

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”(QS. An - Najm : 3-4)

2. Komitmen dan sifat amanah

Tugas rasul adalah menyampaikan kepada manusia risalah yang dibebankan oleh Allah kepada mereka. Apabila seorang rasul sendiri tidak menegakkan kandungan risalah itu, maka hal itu menunjukkan bahwa ia tidak berinteraksi dengan isi risalah tersebut, dan itu menjadi bukti kedustaannya dalam menyampaikan risalah. Seorang rasul yang mempunyai hubungan langsung dengan Allah, pastilah amat mengerti tentang keagungan Allah, dan tidak mungkin melanggar perintah Allah. Tindakan melanggar perintah Allah adalah suatu pengkhianatan kepada-Nya, dan orang-orang yang tidak amanah tentunya tidak pantas mengemban risalah.

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الأَقَاوِيلِ * لأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ * ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ*

“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami. Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.” (Q.S. Al-Haqqah : 44-46)

3. Menyampaikan

Penyampaian kandungan risalah secara sempurna dan kontinu, disertai rasa tidak peduli pada kebencian, siksaan, kejahatan, tipu daya, konspirasi, atau sikap kasar manusia yang menghalangi dakwah-nya. Juga,istiqamah dalam mengerjakan perintah Allah dan tidak menyeleweng darinya, meskipun menghadapi bujukan apa pun. Tanpa tablig (penyampaian) niscaya risalah ini tidak akan muncul. Tanpa kontinuitas serta kesabaran dalam bertablig, niscaya risalah tersebut tidak akan bertahan keberadaannya Adapun tunduk pada tekanan manusia atau bujukan mereka saat menyampaikan risalah itu, menjadi bukti kebohongan klaim penyampaian risalah dari Allah. Tidak ada yang menyampaikan risalah Allah kecuali orang yang cintanya pada Allah mengalahkan segalanya Hanya Allahlah yang agung di sisinya, dan hanya ridha-Nya yang menjadi tujuannya.

يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي

الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Haqqah : 67)

4. Cerdas

Manusia tidak tunduk dan mengikuti orang lain kecuali jika orang tersebut lebih cerdas darinya, agar mereka merasa tenang bahwa ia tidak membawa mereka pada jalan yang salah. Tanpa intelegensia yang cemerlang, pengemban risalah juga tidak akan mampu meyakinkan orang lain akan kebenaran yang ia bawa, khusus-nya bagi orang-orang yang memiliki wawasan luas dan intelektualitas yang tinggi. Ia juga tindakan mampu menghadapi serangan orang-orang yang memusuhi ajarannya, yang menolak dakwahnya, dan yang menyimpang dari jalan kebenaran. Oleh karena itu, seorang rasul seharusnya adalah seorang yang paling cerdik, paling cerdas, paling berakal, paling bijak, dan paling sempurna pengetahuannya dibandingkan manusia yang lain, sehingga keberadaan dirinya sendiri bisa menjadi bukti kebenaran risalah yang ia sampaikan.

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لاَ تَخَافُونَ

فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.” (QS. Al- fath : 27)

III. TUJUAN DITURUNKANNYA RASUL

Tujuan utama diutusnnya para rasul kemuka bumi oleh Allah SWT ialah mengajak umatnya untuk beribadat kepada Allah serta agar para manuasia menegakan agamaNya.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (Q.S.Al-Anbiya: 25)

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thoghut (sembahan selain Allah).” (QS. An Nahl: 36)

Seperti kita ketahui, sebelumnya manusia adalah umat yang satu, berasal dari Nabi Adam ‘alaihissalam. Mereka beriman dan menyembah hanya kepada Allah saja. Namun mengapa Allah SWT mengutus para rasul sedangkan para manusia pada saat dahulu selalu beriman dan menyembah hanya kepada Allah SWT. Seperti kita ketahui bahwa disetiap kehidupan manusia, selalu ada syaitan. Syaitan menggoda manusia untuk mengada-adakan bid’ah dalam agama mereka. Bid’ah-bid’ah kecil yang semula dianggap remah saat generasi berganti generasi, bid’ahnya pun semakin menjadi. Hingga pada akhirnya menggelincirkan mereka kepada bid’ah yang sangat besar, yaitu kemusyrikan.

Setiap kali kemusyrikan merajalela pada suatu kaum, maka Allah mengutus rasul-Nya untuk mengembalikan mereka kepada tauhid dan menjauhi syirik. Allah SWT senantiasa mendahulukan perintah tauhid dan menjauhi syirik, sebelum memerintahkan yang lainnya dalam setiap firmannya di Al Quran.

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا وَبِالوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي القُرْبَى وَاليَتَامَى وَالمَسَاكِيْنَ وَالْجَارِ ذِي القُرْبَى وَالجَارِ الجُنُبِ والصَّاحِبِ بِالجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيْلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun. Dan berbuat baiklah pada kedua orang tua (ibu & bapak), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabiil dan hamba sahayamu.” (QS. An Nisa: 36)

Mengapa Allah SWT mendahulukan penyebutan pengharaman syirik sebelum yang lainnya, karena keharaman syirik adalah keharaman yang terbesar.

Allah mengutus pada setiap umat seorang Rasul. Walaupun penerapan syari’at dari tiap Rasul berbeda-beda, namun Allah mengutus para Rasul dengan tugas yang sama. Beberapa diantara tugas tersebut adalah:

Adapun tugas para nabi dan rasul adalah sebagai berikut:

1. Mengajarkan aqidah tauhid, yaitu menanamkan keyakinan kepada umat manusia bahwa:

v Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa dan satu-satunya dzat yang harus disembah (tauhid ubudiyah)

v Allah adalah maha pencipta, pencipta alam semesta dan segala isinya serta mengurusi, mengawasi dan mengaturnya dengan sendirinya (tauhid rububiyah)

v Allah adalah dzat yang pantas dijadikan Tuhan, sembahan manusia (tauhid uluhiyah)

v Allah mempunyai sifat-sifat yang berbeda dengan makhluqNya (tauhid sifatiyah)

2. Mengajarkan bagaimana cara menyembah atau beribadah kepada Allah SWT

Ibadah kepada Allah SWT sudah dicontohkan dengan pasti oleh para rasul, tidak boleh direkayasa. Ibadah dalam hal ini adalah ibadah mahdhah seperti salat, puasa dan sebagainya. Menambah-nambah, merekayasa atau menyimpang dari apa yang telah dicontohkan oleh rasul termasuk kategori “bid’ah”, dan bid’ah adalah kesesatan.

3. Menjelaskan hukum-hukum dan batasan-batasan bagi umatnya, mana hal-hal yang dilarang dan mana yang harus dikerjakan menurut perintah Allah SWT

4. Memberikan contoh kepada umatnya bagaimana cara menghiasi diri dengan sifat-sifat yang utama seperti berkata benar, dapat dipercaya, menepati janji, sopan kepada sesama, santun kepada yang lemah, dan sebagainya.

5. Menyampaikan kepada umatnya tentang berita-berita gaib sesuai dengan ketentuan yang digariskan Allah SWT

6. Memberikan kabar gembira bagi siapa saja di antara umatnya yang patuh dan taat kepada perintah Allah SWT dan rasul-Nya bahwa mereka akan mendapatkan balasan surga, sebagai puncak kenikmatan yang luar biasa. Sebaliknya mereka membawa kabar derita bagi umat manusia yang berbuat zalim (aniaya) baik terhadap Allah SWT, terhadap manusia atau terhadap makhluq lain, bahwa mereka akan dibalas dengan neraka, suatu puncak penderitaan yang tak terhingga.(Q.S. al Bayyinah: 6-8)

Tugas-tugas rasul di atas, ditegaskan secara singkat oleh nabi Muhammad saw.dalam sabdanya sebagai berikut:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص م : إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُِتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ

(رَوَاهُ أَحْمَد بن حَنْبَل)

Dari Abi Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah saw. pernah bersabda: Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia. (H.R. Ahmad bin Hanbal)

IV. NAMA-NAMA NABI DAN RASUL

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban didalam shahihnya dari Abu Dzar al Ghifary berkata,”Aku bertanya kepada Rasulullah saw berapakah jumlah para nabi?” beliau saw bersabda,”124.000.” lalu aku bertanya berapa jumlah para rasul?” maka beliau saw bersabda,”313.”

Hadits lainnya menyatakan, ”Dari Abi Zar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi, "(Jumlah para nabi itu) adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi." "Lalu berapa jumlah Rasul diantara mereka?" Beliau menjawab, "Tiga ratus empat belas(314)" (HR At-Turmuzy).

Juga Imam Thabrani meriwayatkan dari Abu Umamah bahwa seorang laki-laki bertanya,”Wahai Rasulullah, apakah Adam adalah seorang nabi?” Beliau saw menjawab,”Ya.” Kemudian orang itu bertanya,”Berapa masa antara dia dengan Nuh?” Beliau saw menjawab,”10 abad.” Lelaki itu bertanya lagi,”Berapa masa antar Nuh dengan Ibrahim?” Beliau saw menjawab,”10 abad.” Lelaki itu bertanya lagi,”Wahai Rasulullah berapakah jumlah para rasul?” Beliau saw menjawab,”315.”

Urutan para rasul adalah Adam, Idris, Nuh, Hud, Shaleh, Ibrahim, Luth, Ismail, Ishaq, Ya’ qub, Yusuf, Ayyub, Syuaib, Musa, Harun, Dzulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’ , Yunus, Zakaria, Yahya, Isa, Muhammad saw. .. (Fatawa al Azhar juz VIII hal 101) Sedangkan Luqman yang diceritakan dalam Al-Quran dalam QS. Lukman bukanlah seorang nabi, ia adalah seorang lelaki shaleh, ahli ibadah, pengetahuan dan hikmah yang luas. Ada yang mengatakan bahwa dia adalah seorang hakim pada zaman Daud as, demikian menurut Ibnu Katsir

V. HIKMAH KEIMANAN TERHADAP RASUL

Beriman kepada Rasul Allah akan memberikan hikmah yang besar bagi kita, antara lain:

· Mengetahui betapa besarnya kasih sayang Allah kepada hambanya sehingga diutus beberapa Nabi untuk membimbing dan memberi petunjuk untuk kebahagian manusia baik di dunia maupun di akhirat.

· Kita selalu bersyukur kepada Allah SWT, karena Allah telah mengutus Nabi sebagai pembimbing keselamatan kita, itu merupakan nikmat yang amat besar.

· Melahirkan rasa cinta dan ta’zhim kepada Rasul, karena mereka berhasil mengemban amanah dari Allah SWT, walaupun dihalau oleh beberapa tantangan dan rintangan, namun risalah tersebut tetap tersebar sampai saat ini.

· Dapat mengetahui jejak Rasul-rasul Allah, sehingga makin mantaplah keyakinan akan kesempurnaan islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW dan makin teguh berpegang pada ajaran Tuhan yang Maha Sempurna.


KESIMPULAN

Allah Ta’ala mewajibkan atas setiap orang Islam supaya beriman kepada semua Rasul yang diutus oleh-Nya, tanpa membedakan yang seorang dengan yang lainnya. Allah Ta’ala menjelaskan pula bahwa keimanan diatas merupakan keimanan seluruh kaum mukminin. Apabila seseorang itu sudah beriman kepada sebagian Rasul, sedangkan kepada sebagian Rasul lain ia tidak beriman atau dengan kata lain orang itu membeda-bedakan dalam keimanannya terhadap keseluruhan Rasul Allah itu, maka ia jelas menjadi orang kafir.


Poskan Komentar